Gereja Sebagai Jemaat Misioner

Gereja sebagai Jemaat Misioner

(Berdasarkan buku Pembangunan Jemaat Misioner, 1978, oleh D.R. Maitimoe)

                Wacana mengenai pembangunan jemaat yang misioner telah digaungkan sejak sekitar 4 dasawarsa yang lalu oleh berbagai pihak penggiat gereja-gereja di Indonesia, bahkan Asia. Dalam studi mengenai hal ini, para penggiat yang juga adalah warga gereja sendiri berpendapat bahwa sebenarnya kata “misioner” tidak dapat dipisahkan dari struktur jemaat karena jemaat Kristen sudah dengan sendirinya merupakan suatu persekutuan dengan tugas misioner.[1] Hanya saja hal ini tidak disadari oleh jemaat secara umum. Oleh karena itu, D.R. Maitimoe mengawali bukunya ini dengan sebuah gagasan mengenai pembaharuan gereja. Bukan lagi seperti gerakan Reformasi Gereja pada abad ke-15, pembaharuan gereja yang dimaksudkan oleh penulis ialah untuk memikirkan ulang dan menyusun kembali pengertian jemaat tentang Gereja dan tugasnya sebagai persekutuan yang misioner, yang ditempatkan Allah di dunia ini.

                Gereja perlu melihat dirinya sebagai umat Kristus yang melayani di dalam dan untuk dunia. Karena itu, Gereja harus terbuka dengan setiap pergerakan hidup sebagaimana dunia yang juga selalu berada dalam pergerakannya. Gereja yang hadir di dalam dan untuk dunia tidak dapat mengasingkan diri sebagai kelompok religius yang terpisah dari masyarakat sekitar. Sebaliknya, Gereja yang menjadi bagian dari dunia harus siap dengan kritikan-kritikan terhadap diri sendiri dan mampu menjawab tantangan-tantangan dari dunia yang dinamis. Menerima semua itu sebagai reaksi dalam kehidupan bersama, yang kemudian mampu melahirkan refleksi-refleksi teologis baru terhadap Firman Allah (Alkitab). Dalam hal ini, Gereja perlu mempersoalkan pemikiran-pemikiran tradisional serta kebiasaan-kebiasaan lama, dan mulai memikirkan pola-pola baru yang lebih relevan dan cocok bagi pembangunan jemaat yang misioner di zaman modern ini.

                Dengan kesadaran ini, maka Gereja dapat mengerti posisinya dalam rancangan keselamatan Allah bagi dunia di zaman ini. Tugas pengutusan Gereja tidak boleh dibatasi pada kegiatan-kegiatan gerejani atau proyek-proyek pelayanan Kristen yang pada akhirnya bermuara pada kehidupan gerejani itu sendiri. Tugas pengutusan Gereja bermaksud supaya wargaGereja menggunakan fungsinya sebagai kawan sekerja Allah, dan dengan demikian ikut serta dalam tindakan Allah yang tertuju kepada dunia. Dengan kata lain, MISSIO DEI (Lat. “misi Allah”) merupakan hakikat Gereja yang misioner.(By: Vik. GNK)

 


[1] D.R. Maitimoe, Pembangunan Jemaat Misioner, (1978, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 14.

Arsip

Pengguna baru

  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect
  • cospcolBal
  • Gopcer

Login Form