Teologi Calvinis

Teologi Calvinis

(Berdasarkan buku “Apa Itu Calvinisme?” oleh Christian de Jonge)

                Christiaan de Jonge mengatakan bahwa pokok teologi Calvin berakar dalam teologi Luther. Namun demikian, dalam Pojok Ngejaman edisi sebelumnya, telah dikemukan terdapat perbedaan latar belakang antara Luther dan Calvin yang turut mempengaruhi teologi keduanya. Teologi Reformasi Luther sendiri biasanya diringkaskan dengan tiga ungkapan dalam bahasa Latin, yaitu: sola gratia, sola fide dan sola Scriptura. Di dalam ketiga ungkapan ini terkandung makna bahwa manusia diselamatkan hanya oleh kasih karunia (gratia) Allah saja, bahwa manusia hanya memperoleh keselamatan ini jika ia menyerahkan diri dalam iman (fides) kepada Allah yang rahmani saja, dan bahwa manusia hanya memperoleh pengetahuan tentang Allah melalui Firman Allah yang terkandung dalam Alkitab (Scriptura).

                Sementara itu, pokok teologi Calvin pertama-tama menekankan bahwa kemuliaan Allah (Gloria Dei) adalah tujuan utama dari segala-galanya. Calvin mengatakan bahwa sebagai insan yang berdosa, manusia tidak mampu memberikan kehormatan yang patut bagi Allah, selain jika mereka menerima pengampunan dan pembenaran dari Allah sendiri. Ketika Allah membenarkan manusia, maka manusia dimampukan untuk memuliakan Allah. Dalam tujuan memuliakan Allah, Calvin sangat menekankan tentang kelahiran baru (regeneratio) atau pengudusan hidup (sanctificatio) yang harus menyertai pembenaran orang berdosa (justificatio).

                Dengan kata lain, Calvin menekankan bahwa pembenaran dari Allahlah yang menentukan apakah manusia itu layak diselamatkan atau tidak. Hal ini merupakan salah satu pokok ajaran Calvin yang dikenal dengan istilah “predestinasi”. Predestinasi menurut definisi Calvin adalah keputusan Allah yang kekal, yang dengannya Ia menetapkan untuk diriNya sendiri, apa yang menurut kehendak-Nya akan terjadi atas setiap orang. Calvin menegaskan bahwa hanya Allah yang dapat memisahkan yang baik dan yang jahat, sebab manusia tidak mampu menentukan dengan pasti siapa yang ditolak. Tujuan utama dari “predestinasi” ini ialah (kembali lagi) semata-mata untuk menjamin kemuliaan Allah.

Mengenai Alkitab, Calvin menegaskan bahwa pengetahuan yang sejati mengenai Allah hanya dapat diperoleh dari Alkitab. Sebab Alkitablah yang mengandung Firman Allah. Alkitab merupakan alat penyataan Allah, bukan penyataan Allah itu sendiri. Pusat penyataan Allah adalah Yesus Kristus, yang disaksikan dalam Alkitab. Di sini Calvin mempertahankan prinsip Luther mengenai sola scriptura. Sementara, untuk pokok Pengakuan Iman, Calvin mengungkapkan bahwa iman harus diungkapkan dalam suatu pengakuan dan bahwa pengakuan itu mengikat mereka yang menerimanya. Pengakuan Iman di sini maksudnya adalah tulisan-tulisan yang menjelaskan ajaran iman yang dianut oleh gereja, yang dalam arti sebenarnya disebut konfesi (confessio). Gereja-gereja Calvinis mempertahankan warisan dari gereja kuno, Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nicaea-Konstantinopel.

                Dari pokok-pokok teologi, kini beralih ke pemahaman tentang Gereja. Calvin melihat Gereja sebagai sarana yang diberikan Allah kepada orang-orang percaya yang lemah untuk membina dan memelihara mereka dalam iman. Oleh karena itu, Gereja tidak boleh diremehkan manusia. Bagi Calvin, Gereja dalam arti yang sebenarnya yaitu ibu yang membina dan memelihara anak-anak-Nya dalam iman. Penjelasannya mengenai Gereja ini kemudian dilanjutkan dengan pemahaman mengenai pejabat gereja, tata gereja, dan siasat (disiplin) gereja.

Arsip

Pengguna baru

  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect
  • cospcolBal
  • Gopcer

Login Form