Perkembangan Pendidikan Kristiani

Perkembangan Pendidikan Kristiani

(Berdasarkan buku Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek

Pendidikan Agama Kristen, 2009)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

Pendidikan Kristiani terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, sejarah perkembangan Pendidikan Kristiani bisa dikatakan sebagai segala sesuatu yang dipikirkan dan dilakukan gereja pada masa lampau dalam upaya mendidik warga gereja. Sejarah PK ini telah diuraikan secara sistematis oleh Boehlke dalam bukunya yang ditulis dalam dua jilid. Jilid pertama telah dibahas Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: dari Plato sampai Ig. Loyola. Buku pertama Boehlke ini merangkum perkembangan Pendidikan Kristiani selama 16 abad. Termasuk di dalamnya pengaruh pemikiran para reformator di zaman gerakan reformasi. Pemikiran Marthin Luther dan Yohanes Calvin dengan serta merta menjadi pemikiran Pendidikan Kristiani. Kini dalam jilid yang kedua dibahas mengenai pemikiran para tokoh yang memusatkan perhatiannya kepada pelayanan pendidikan itu sendiri.

Dimulai dari seorang tokoh yang berasal dari Ceko, Yohanes Amonius Comenius.  Lahir di tengah-tengah perseteruan antara gereja Katolik Roma dan para golongan reformator, membuat tokoh pendidikan yang kemudian disebut sebagai “Bapak Pendidikan Modern” ini berpikir bahwa pendidikan Kristiani itu tidak cenderung berpusat pada tatanan gerejawi seperti yang ditekankan oleh gereja Katolik Roma, ataupun pada perumusan iman ynag seteliti mungkin menurut pikiran Luther dan Calvin, melainkan pada hidup secara Kristiani itu sendiri. Inilah yang menjadi tujuan pendidikannya yaitu, untuk menghasilkan gaya hidup yang selaras dengan jati diri sebagai murid Yesus. Selanjutnya pemikiran seorang yang berwarganegara Jenewa, Jean Jacques Rousseau. Dalam buku pendagogisnya yang berjudul Emile, Rousseau menyerukan kepada para pendidik dan pemimpin untuk betul-betul memperhatikan sifat, kebutuhan, kemampuan, serta minat anak didik sebagaimana adanya mereka sebagai seorang anak kecil bukan orang dewasa. Pemikirannya ini membuat para tokoh pendidik harus mengakui bahwa hasil karyanya ini merupakan salah satu buku yang berpengaruh dalam dunia pendidikan. Selain itu dibahas lagi dua tokoh lain yakni Johann Heindrich Pestalozzi (pendiri Sekolah Dasar modern) dan Friedrich Froebel (pendiri Taman Kanak-kanak).

Perkembangan pemikiran dan praktek pendidikan Agama Kristen berlanjut kepada seorang tokoh berkebangsaan Inggris, Robert Raikes. Anak sulung dari seorang pencetak salah satu surat kabar terkenal di daerah Gloucester ini kemudian dihormati sebagai seorang pendiri sekolah minggu. Melihat dampak buruk dari Revolusi industri pada saat itu, membuat Robert Raikes prihatin terhadap nasib kaum miskin yang disebut Boehlke sebagai hasil dari “masyarakat mesin”. Keadaan sosial terlebih ekonomi saat itu mendesak para buruh dan menyebabkan banyaknya orang, baik anak kecil, pemuda maupun orang tua yang hidup melarat. Boehlke menambahkan bahwa kehidupan mereka bahkan lebih buruk dari keadaan kaum budak. Anak-anak yang pada hari minggu terbebas dari pekerjaanya melakukan tindakan yang tidak terpuji. Raikes melihat tindakan mereka ini sebagai persiapan untuk melakukan kejahatan dan kembali menjadi narapidana di kemudian hari. Hal inilah yang memberikan Raikes ide untuk mencari jalan keluar bagi kebebasan tenaga muda yang disia-siakan ini. Dari sini muncullah gagasan untuk mendirikan sekolah sederhana bagi anak-anak miskin itu. Ia meminta bantuan seorang ibu untuk mendidik anak-anak ini.

Perkembangan dan perluasan sekolah minggu tidak berhenti ketika praktisi pendidikan ini meninggal karena ada keterlibatan banyak pihak di dalamnya. Boehlke membuktikan baru dua puluh tahun Raikes memprakarsai berdirinya sekolah minggu, di Inggris saja telah ada 400.000 anak didik yang belajar di sekolah minggu pertama itu dengan segala peraturan yang berlaku. Tidak hanya di Inggris bahkan sekolah minggu juga berkembang ke mana-mana. Misalnya saja, pada tahun 1790, tiga orang Amerika mendirikan Perserikatan Hari Pertama untuk mendidik anak-anak miskin. Disusul dua puluh tahun kemudian seorang ibu dari kota New York mendirikan Perserikatan Wanita bagi Kemajuan Sekolah Sabat di New York. Selama tahun-tahun pertama perkembangan sekolah minggu itu, semua sistem pengajaran, rencana kerja dan struktur organisasi mengikuti pengalaman lembaga sekolah minggu di Inggris, meskipun konteksnya berbeda dengan masyarakat Amerika saat itu. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena para pemimpin Amerika mulai mempersiapkan bahan khusus untuk anak didik di Amerika.

Sejarah Kristen bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak melainkan dinamis, karena tidak pernah ada satu titik dalam sejarah yang menjadi suatu patokan. Begitu juga dengan pendidikan Kristiani. Sepanjang waktu selalu ada upaya menemukan sesuatu yang baru yang dianggap dapat dijadikan patokan yang sempurna. Hal inilah yang membuat pendidikan Kekristenan itu selalu berubah (dinamis) atau berkembang dari waktu ke waktu. Suatu kenyataan juga bahwa Pendidikan Kristiani sejak awal telah terbagi-bagi dalam beberapa kelompok pemikiran. Kepelbagaian adalah suatu fakta yang juga harus kita terima dalam Kekristenan. Oleh sebab kedinamisan dan kemajemukan Pendidikan Kristiani ini, kita diajak untuk merefleksikan dan mencari makna dari sejarah agar sejarah tidak hanya sekedar menjadi kenangan tetapi juga guru yang baik.

Arsip

Pengguna baru

  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect
  • cospcolBal
  • Gopcer

Login Form