Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat (2)

Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat (2)[1]

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

        Pada Pojok Ngejaman edisi sebelumnya telah dijelaskan mengenai pendekatan Appreciative Inquiry yang dianggap berpotensi mengoptimalkan usaha pengembangan jemaat. Pendekatannya yang berpangkal pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki komunitas menjadi modal besar mengembangkan teologi praktis dalam jemaat. Menurut Banawiratma, jemaat yang masih terikat dengan tradisi teologi Barat yang menekankan pemberitaan mengenai dosa dan penebusan cenderung membawa dampak penghayatan iman yang kurang ceria, bahkan pesimis. Asumsi teologi ini menekankan kesadaran akan keberdosaan dan keterbatasan manusia. Padahal keselamatan adalah karunia Allah atas setiap manusia berdosa dan oleh karena itu, sikap manusia yang tepat adalah dengan sukacita bersyukur. Proses teologis praktis melalui AI ini secara sadar memilih pendekatan yang optimis dan positif.

        Untuk mendukung teorinya ini, Banawiratma mengangkat pemikiran tiga orang teolog, yakni Paul Tillich, Jurgen Moltmann dan Mathew Fox. Tokoh pertama ialah Paul Tillich, seorang teolog dari tradisi Lutheran. Analisisnya ialah soal keberanian yang menjadi kunci jawaban dari semua kecemasan yang dialami jemaat. Baginya, keberanian adalah daya kekuatan untuk menerima kenyataan. Dalam buku Dynamics of Faith (1957), Tillich menggarisbawahi keberanian sebagai unsur dalam iman.

Keraguan tidak diatasi dengan represi, melainkan dengan keberanian. Keberanian tidak menyangkal adanya keraguan, melainkan menerima keraguan itu sebagai ekspresi dari keterbatasannya. Keberanian tidak membutuhkan keamanan dari keyakinan yang tidak dapat dipertanyakan. Terkandung dalam keberanian itu adalah resiko. Tanpa resiko kehidupan yang kreatif tidaklah mungkin.

Teologi yang positif dan menggerakkan juga kita dapatkan dari teologi pengharapan dari Jurgen Moltmann (1964). Dalam buku itu, Moltmann menjelaskan eskatologi tidak sebagai ajaran mengenai hal-hal terakhir pada akhir zaman, melainkan sebagai ajaran mengenai yang diharapkan dan mengenai yang digerakkan saat ini oleh pengharapan itu. Eskatologi bukan soal akhir, tetapi masa kini. Eskatologi berbicara mengenai pengharapan di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus dialami sebagai Dia yang hadir dan menyertai, berjerih payah bersama kita sekarang ini. Ia hadir dalam Roh Kudus, daya kekuatan Allah yang sama dengan yang dulu hadir dalam hidup Yesus di Palestina.

        Mathew Fox juga memiliki visi teologis positif dan optimis dalam paradigma original blessing (1983). Visinya ditempatkan dalam rangka pergeseran spiritualitas, yakni dari paradigma spiritualitas dosa/penebusan kepada spiritualitas berpusat pada pencipta.

 


[1] Berdasarkan buku Pemberdayaan Diri Jemaat dan Teologi Praktis Melalui Appreciative Inquiry (AI) oleh J.B. Banawiratma

Arsip

Pengguna baru

  • Aliceunlax
  • velocioyv
  • janniekh16
  • FrankRease
  • Content Spinning

Login Form