Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat (3)

Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat (3)[1]

Pendekatan Appreciative Inquiry yang memberdayakan dan mengembangkan jemaat terlihat dalam teologi keberanian yang disuguhkan oleh Paul Tillich (1957) dan teologi pengharapan oleh Jurgen Moltmann (1964). Selanjutnya, kita akan membahas lebih dalam mengenai teologi yang positif dan menggerakkan, yakni visi teologis yang oleh Mathew Fox (1983) disebut sebagai spiritualitas penciptaaan (creation-centered spirituality). Visinya ini ditempatkan dalam usaha pergeseran spiritualitas dari paradigm spiritualitas dosa/ penebusan (fall/ redemption spirituality) ke spiritualitas yang berpusat pada penciptaan. Dalam bukunya Original Blessing, Fox menggambarkan 58 butir perbedaan antara spiritualitas dosa dan spiritualitas penciptaan. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Fall/ Redemption Spirituality Creation-centered Spirituality
Beriman adalah soal memikirkan dengan penerimaan Beriman adalah mengandalkan
Gairah adalah kutukan karena itu harus dikendalikan Gairah adalah anugerah karena itu harus dirayakan
Penderitaan: upah dosa Penderitaan: sakit pedihnya kelahiran dari alam semesta
Menekankan dosa asali Menekankan berkah asali
Kerendahan hati adalah ”memandang rendah dirimu” Orang rendah hati bersahabat dengan kedebuannya
Manusia sebagai pendosa Manusia sebagai pribadi yang rajawi yang dapat memilih untuk menciptakan atau menghancurkan
Bertobatlah! Mentransformasikan dan ditransformasikan.

Fox menilai bahwa selama berabad-abad Gereja Katolik maupun Protestan telah menginventasikan banyak energinya dalam menempuh jalan fall/redemption. Sudah selayaknya sekarang dipilih spiritualitas alternatif, yakni creationspirituality, yakni jalan yang paling kuno, yang paling menyembuhkan, jalan dalam Alkitab sendiri.

          Jalan pemberdayaan jemaat dan teologi bukanlah sekedar metode ini atau itu, melainkan spiritualitas Kristiani yang dapat dipertanggungjawabkan. Spiritualitas merupakan pengalaman manusiawi dan praktik hidup konkret yang dijalani, bukan suatu pengertian intelektual yang dimiliki, tetapi tidak dihidupi dalam praktik. Spiritualitas Kristiani mempunyai ciri Trinitarian, yakni cara bertindak yang penuh kesadaran secara personal dan komunal untuk mengikuti dorongan Roh Kudus, menempuh jalan yang dijalani Yesus, demi gerakan Kerajaan Allah dalam segala kenyataan hidup.

          Spiritualitas alternatif yang disebut Fox sebagai creation-centered spirituality ini rasanya tepat kalau disebut spiritualitas Trinitarian kosmis. Sifat kosmis didasari oleh karena Roh Allah hadir dan bekerja dalam seluruh kosmos (ciptaan). Pemahaman ini sejalan dengan yang Maitimoe katakan tentang Roh Kudus. Roh Kudus adalah sumber hidup baru bagi tiap orang Kristen (jemaat). Tidak ada pekabaran Injil, tidak ada pertobatan, tidak ada pelayanan, tidak ada pertumbuhan jemaat terlepas dari karya Roh Kudus. Roh Kuduslah dinamika ilahi yang menghasilkan kualitas maupun kuantitas dalam pembinaan jemaat misioner.[2]

 


[1] Berdasarkan buku Pemberdayaan Diri Jemaat dan Teologi Praktis Melalui Appreciative Inquiry (AI) oleh J.B. Banawiratma

[2] D.R. Maitimoe, Membina Jemaat Misioner, (1984, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 17.

Arsip

Pengguna baru

  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect
  • cospcolBal
  • Gopcer

Login Form